Halaman
Skeptis atau Kritis, Mana Lebih Baik?
Baru-baru ini saya sering melihat begitu banyak orang terlibat perang di media sosial seputar permasalahan politik di tanah air. Pikiran saya terusik setiap kali ada orang yang menulis di media sosial dengan gaya bahasa menyindir. Awalnya saya merasa itu biasa saja jika yang menulis itu adalah orang awam (biasanya orang awam menulis secara impulsif), saya bisa maklum, meskipun agak jengkel. Tapi, setelah saya amati, saban hari, semakin banyak yang saling menyudutkan salah satu pihak dengan cara menyindir dan anehnya beberapa tokoh atau pengamat politik ternama juga tidak bisa lepas dari cara-cara seperti itu. Mereka terjebak secara emosional, akal sehat mereka tertelan oleh reaksi emosional mereka.
Saya tak habis pikir, di dunia yang kebanjiran informasi saat ini harusnya membuat banyak orang menjadi lebih cerdas, tetapi yang terjadi malah sebaliknya : kita semakin mudah terprovokasi. Dan yang saya takutkan pun terjadi, komunikasi di media sosial menjadi gila, hoax bermunculan di mana-mana. Pemerintah sibuk mengklarifikasi setiap hoax yang beredar, terlambat sedikit, situasi akan menjadi kacau balau.
Politik di tanah air menjadi begitu mengerikan, masyarakat begitu mudahnya diadu domba, belum lagi munculnya penumpang gelap memanfaatkan situasi yang ada dan ingin menyebabkan negara menjadi Chaos. Saat ini Pemerintah dan DPR dalam sebuah tekanan hebat. Aksi-aksi mahasiswa yang menggeruduk kantor DPR pusat menjadi perhatian serius bagi para media, khususnya media elektronik yang mempunyai akses yang begitu cepat menyebar dan menjadi berita utama di seluruh negeri.
Akar permasalahan yang menyulut aksi demonstran besar-besaran di berbagai kota, khususnya kota Jakarta, itu tak lepas dari disahkannya RUU KPK dan akan disahkannya RUU KUHP, yang menurut beberapa kalangan terkesan ngawur dan terburu-buru dan tidak melibatkan banyak pihak. Bersamaan dengan itu, kebakaran hutan sedang terjadi di Riau dan Kalimantan, belum lagi masalah rasisme di Papua. Singkatnya, negeri ini sedang dalam masalah yang kompleks.
Semenjak itu, perdebatan terjadi di mana-mana, baik di media sosial ataupun di televisi. Kita melihat di televisi selalu menghadirkan atau mengundang berbagai nasarumber, baik itu dari kalangan politisi, pengamat maupun mahasiswa itu sendiri. Setiap orang memberikan pendapatnya masing-masing dan tentu saja mereka saling membantah.
Para mahasiswa tetap berpegang teguh dengan senjata kekritisannya dan bersikeras bahwa kekacauan yang terjadi bukan dari bagian mereka, sementara pihak dari Pemerintah mengatakan demonstran dengan cara anarkis itu tidaklah tepat. Aktivis HAM tetap fokus : bahwa negara harus menjamin kebebasan berbicara setiap individu dan mengingatkan Pemerintah supaya tidak menggunakan cara-cara kekerasan dan bersifat otoriter.
Secara teori perdebatan tampak masuk akal, semua sepakat bahwa berbuat anarkis sungguhlah perbuatan yang tidak etis, tetapi pada prakteknya, demo di beberapa daerah tampak tak terkendali dan ricuh. Apa yang menyebabkan kekacauan itu terjadi? Apakah relevan jika mengganggap itu semua kegagalan Pemerintah? atau, apakah relevan kalau kita menganggap kekacauan itu akibat ulah para mahasiswa yang berdemo? yang secara tidak langsung, situasi itu dimanfaatkan oleh para penumpang gelap? Tentu akal budi kita menolak untuk percaya bahwa kekacauan itu akibat ulah para mahasiswa, dan kebanyakan orang juga percaya bahwa aksi mahasiswa itu wajar, karena itu adalah bentuk aspirasi mereka. Bagaimana dengan penumpang gelap? tentu harus ada investigasi akan hal itu. Kalau begitu, haruskah kita melimpahkan semua kesalahan itu kepada pemerintah? tentu tidak etis juga. Jadi apa penyebab kekacauan itu terjadi?
Saya ingin tekankan, saya sama sekali tidak tahu apa penyebab kekacauan itu. Di sini saya hanya sebagai warga negara Indonesia, yang cukup prihatin tentang yang terjadi saat ini. Saya ingin menghimbau, agar semuanya bisa menahan diri. Saya bukan seorang pakar/ahli yang mencoba memberi tahu sebuah solusi untuk masalah yang terjadi saat ini. Saya hanya berharap kepada seluruh warga negara Indonesia, supaya tidak secara emosional merespon apa yang tengah terjadi, biarkan Pemerintah bekerja secara konstitusi (hukum yang berlaku), jangan mudah termakan hoax.
Kita harus tetap percaya kepada Pemerintah yang sah untuk menangani masalah yang terjadi. Tolong jangan memperkeruh suasana. Sekali lagi, tahan diri. Dan yang paling penting, skeptislah kepada informasi yang beredar, tidak cukup hanya bersikap kritis. Lebih baik menjadi orang yang setengah skeptik daripada menjadi orang yang kritis. Mengapa? karena menjadi setengah skeptik itu lebih susah dipengaruhi (oleh apapun), sedangkan orang yang kritis itu, cenderung mudah dipengaruhi (dimanfaatkan/dibodohi), meskipun mereka orang-orang yang cerdas (ber IQ tinggi). Tulisan yang saya buat ini hanya sebuah alarm atau lebih tepatnya adalah sebuah himbauan dan berharap semoga situasi kembali kondusif. Jadi berhati-hatilah, saudaraku.
Baiklah, izinkan saya mengakhiri tulisan ini dengan sebuah ungkapan yang dikatakan oleh sejarawan, Yuval Harari:
"Di dunia yang dibanjiri oleh informasi yang tidak relevan, kejelasan adalah kekuatan."
Catatan:
~Perlu diketahui, orang yang skeptik sudah tentu kritis, sebaliknya orang kritis belum tentu skeptik.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar